Polrinews
Terkesan Lambat, Ayah Korban Minta Polresta Pekanbaru Usut Kasus Penganiayaan Pelajar SMP
Ilustrasi
PEKANBARU -- Kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur kembali marak terjadi di Kota Pekanbaru. Arsad (15) siswa SMP kelas III warga Jalan Padang Bolak Labuh Baru, ini diduga mengalami penganiayaan yang dilakukan sekelompok orang, pada awal November 2025.
Mirisnya, peristiwa terjadinya pemukulan tersebut justu belum memberikan hasil yang positif setelah dari pihak keluarga korban melapor ke Polresta Pekanbaru.
"Kasus tersebut sudah kami laporkan ke Polresta Pekanbaru. Justru hampir sebulan laporan itu belum ada tindak lanjut dari polisi," ujar Sarmadi selaku ayah korban kepada wartawan, Selasa 25 November 2025.
Laporan itu, lanjut Sarmadi sejak awal bulan 5 November 2025, kemaren dibuat, sampai sekarang prosesnya belum nampak berjalan.
"Saya melihat terduga ini masih berkeliaran diluar sana. Ini kasus pengeroyokan anak dibawah umur dan jumlah pelakunya tidak sepadan dengan korban. Kecuali satu lawan satu, pasti tidak mau saya buat laporkan ke polisi," kesalnya.
Meski kecewa dengan laporannya tidak mendapatkan respon yang cepat dari pihak kepolisian, Sarmadi berharap kinerjan polisi jangan cuma harus menunggu kasusnya lebih dahulu viral dimedia sosial.
"Kalau nunggu kasusnya viral dimedos buat apa, keburu penilainnya negatif dari masyarakat. Namanya pelayanan harus ditanggapi dan tindak lanjut agar memberikan hasil positif," tambahnya.
Peristiwa pemukulan terhadap korban dipicu sejak hilangnya handphone merek Xiomi milik korban beberapa waktu lalu. Seiring waktu masalahnya berlanjut pada pembajakan media sosial milik korban.
"Awalnya handphone anak saya hilang (dicuri) lalu pelaku membajak semua isi handphone sampai ke media sosial Instagram korban. Semua temannya yang ada dimedsos dichating (dm,red) oleh pelaku dengan ucapan kata-kata kasar," terangnya.
Dari semua chatingan (dm) isinya kata-kata kasar di medsos itu, semuanya mengarah ke teman korban. Termasuk didalamnya Stenli yang ikut menjadi sasaran pembajak tersebut. Lanjut Ayah korban Stenli ini teman tongkrongan korban didekat rumah.
"Saat itu, Stenli bertemu dengan korban disana terjadi obrolan sengit keduanya terkait chatingan kata-kata kasar di DM instagram milik korban. Meski dijelaskan, korban mengaku tidak melakukan chatingan itu karena kondisi handphonenya saat ini hilang dicuri dan pelaku juga membajak akun medsosnya," katanya.
Stenli yang sudah kepalang emosi tidak lantas begitu mempercayainya. Korban dibawa Stenli ke daerah Palas dengan berboncengan sepeda motor. Setibanya di daerah Palas, korban langsung mendapatkan bogem mentah dari Stenli.
"Tidak satu orang disana yang menunggu kedatangan mereka. Malah sebanyak 5 orang pria dewas yang sudah hadir di Palas, tiba-tiba mereka memberikan pukulan bertubi-tubi kearah korban," tambahnya.
Mendapatkan perlawanan yang tidak setimpal korban hanya bisa pasrah dan menahan rasa sakit disekujur tubuh dan kepalanya.
Meski telah diceritakan peristiwa chatingan kata-kata kasar itu terhadap semua temannya di medsos termasuk jaga Stenli, namun pemukulan tetap terjadi. Hingga pelaku sempat meminta sejumlah uang kepada korban.
"Kalau mau masalah ini selesai kau harus memberikan uang damai," hardiknya seraya menirukan ucapan pelaku kepada korban saat itu.
Dalam masalah ini, Sarmadi ingin pihak kepolisian harus menentukan sikap dan langkah kedepan. Agar kedepannya permasalah pelaku penganiayaan terhadap anak dibawah umur tidak terjadi lagi.
"Saya ingin mendapatkan penjelasan dan keadilan buat masalah anak saya. Karena ini sudah masuk tindak kriminal penganiayaan hingga pemerasan," imbuhnya.
Editor :Helmi